Rabu, 20 Desember 2017

CERA LABU ( Selamatan laut )

                         CERA LABU
   
    Cera labu adalah ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat di desa soro, kecamatan kempo, kabupaten dompu. Alkisah, pada zaman dahulu ada dua saudara kembar yang hidup di tepi pantai desa soro. Pada suatu hari satu anak tersebut tiba – tiba hilang, lalu dicarilah oleh orang tuanya beserta para masyarakat disana. Pencarian itu dilakukan selama berhari – hari bahkan berbulan – bulan. Namun tidak berhasil menemukan anak yang hilang tersebut. Ketika proses pencarian dilakukan dilaut, tiba – tiba muncullah anak yang hilang itu dan memberitahu bahwa jangan mencarinya lagi, sesungguhnya dia telah mengabdikan hidupnya di laut itu dan tempat tinggalnya adalah toro ruma ( tanjung ruma ) yang berada di seberang barat pesisir desa soro, toro ruma adalah kehidupan lanjutan bagi keluarga warga desa soro yang telah meninggal dunia. Mereka meyakini bahwa leluhurnya yang telah meninggal dunia itu masih bersemayam disana.
     Sejak saat itulah, masyarakat disana menggelar ritual cera labu setahun sekali untuk memberikan doa dan sesajian kepada keluarganya yang ada di laut dan di toro ruma. Dalam ritual ini memang harus dipandu oleh ketua adat yang harus berasal dari keturunan “UA KUDA” yang berasal dari bugis Makassar, dalam pelaksanaannya diadakan di tengah laut dekat dengan toro ruma, ada beberapa mantra yang wajib diucapkan oleh ketua adat termasuk nama – nama leluhur mereka yang telah meninggal dan dipercaya masih bersemayam disana, sehingga acara ini bisa dibilang sakral karena ada beberapa ritual yang tidak boleh dilakukan oleh orang luar atau yang bukan dari Keturunan UA KUDA. Pada malam hari sebelum acara ini dimulai para warga berkumpul untuk menyaksikan proses penyusunan sesajen, yang dimana di dalamnya terdapat kepala kerbau yang sudah dewasa. Kemudian barulah pada pagi hari, masyarakat beramai - ramai ketengah laut dengan menggunakan perahu pribadi milik mereka untuk membuang ( rangki ) yang berisi kepala kerbau tersebut ketengah laut. Setelah itu semua masyarakat bersuka cita yaitu bermandikan air laut. Sebagai wujud rasa syukur terhadap hasil laut dan memohon agar tahun - tahun selanjutnya hasil laut bisa lebih melimpah.
    Ritual ini banyak menyita perhatian orang yang berasal dari luar daerah tersebut, bagaimana tidak mereka menganggap bahwa ritual ini merupakan ritual yang mengandug paham animisme yakni menyembah laut dan termasuk ritual yang syirik yakni menyekutukan tuhan. Padahal ritual cera labu merupakan ritual yang justru bagi masyarakat disana bahwa kehidupan laut diibaratkan dengan kehidupan basah, sedangkan kehidupan darat adalah kehidupan yang kering. Oleh karena itulah, masyarakat disana mengembangkan konsep keseimbangan antara kehidupan laut yang basah dengan kehidupan darat yang kering. Cera labu juga dihajatkan untuk meminta rejeki kepada Tuhan karena laut merupakan sumber kehidupan bagi warga pesisir soro dan sekitarnya.
     

40 komentar:

  1. Tradisi yang sangat luar biasa, pertahankan tradisi tersebut da era modern ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bnar banget gan, sebagai penerus tradisi ini harus dipertahankan. 😊

      Hapus
  2. Terimakasih sudah menambah wawasan kami yang belum memgetahui 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)

      Hapus
  3. Bagus..
    Mari cintai budaya sendiri 😊😊

    BalasHapus
  4. Doa apa yang dibacakan pada ritual ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya ketua adat yang tau & ilmu itu diturunkan turun - temurun kepada keturunannya.

      Hapus
  5. Wow tradisi yang sangat menarik kapan2 saya ingin lihat secara langsung tradisi ini👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...langsung saja ke desa sy gan, acaranya sekitar bln april sekaligus dalam rangka tambora menyapa dunia. :)

      Hapus
  6. Luar binasa sekali, menambah wawasan sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimaksih gan... Tunggu postingan sy selanjutnya. :)

      Hapus
  7. Super sekali, thanks udah berbagi pengetahuan gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)

      Hapus
  8. Budaya ciri dari daerah di indonesia pertahankan dan kembangkan!

    BalasHapus
  9. sungguh bagus dan menambah wawasan kita. good

    BalasHapus
  10. Terimakasih postingannya saudara, bermanfaat sekali😊 khususnya untuk kami yang berasal dari daerah lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)

      Hapus
  11. Sangat bermanfaat sekali. Dari awalnya blm tahu menjadi tahu.
    Terimakasi atas postingannya😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)

      Hapus
  12. terima kasih informasinya. sangat bermanfaat. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)

      Hapus
  13. Cerita yang menarik dan di kemas secara elegan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...terimakasih gan. Tunggu postingan sy selanjutnya... :)

      Hapus
  14. artiklenya sangat membantu untuk mengetahui info tentang bima-dompu
    ditunggu artikel selanjutnya...

    BalasHapus
  15. Menarik tulisanaya saudara..
    sedikit pertanyaan...
    Anak yg hilang itu perempuan atu laki2?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut narasumber yg sy wawancarai beberapa bulan yg lalu, yg hilang itu seorang laki - laki.

      Hapus
  16. Wah unik sekali tradisi masyarakat Soro ini.

    BalasHapus
  17. apakah filosofi dari peresean ini??

    BalasHapus