CERA LABU
Cera labu adalah ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat di desa soro, kecamatan kempo, kabupaten dompu. Alkisah, pada zaman dahulu ada dua saudara kembar yang hidup di tepi pantai desa soro. Pada suatu hari satu anak tersebut tiba – tiba hilang, lalu dicarilah oleh orang tuanya beserta para masyarakat disana. Pencarian itu dilakukan selama berhari – hari bahkan berbulan – bulan. Namun tidak berhasil menemukan anak yang hilang tersebut. Ketika proses pencarian dilakukan dilaut, tiba – tiba muncullah anak yang hilang itu dan memberitahu bahwa jangan mencarinya lagi, sesungguhnya dia telah mengabdikan hidupnya di laut itu dan tempat tinggalnya adalah toro ruma ( tanjung ruma ) yang berada di seberang barat pesisir desa soro, toro ruma adalah kehidupan lanjutan bagi keluarga warga desa soro yang telah meninggal dunia. Mereka meyakini bahwa leluhurnya yang telah meninggal dunia itu masih bersemayam disana.
Sejak saat itulah, masyarakat disana menggelar ritual cera labu setahun sekali untuk memberikan doa dan sesajian kepada keluarganya yang ada di laut dan di toro ruma. Dalam ritual ini memang harus dipandu oleh ketua adat yang harus berasal dari keturunan “UA KUDA” yang berasal dari bugis Makassar, dalam pelaksanaannya diadakan di tengah laut dekat dengan toro ruma, ada beberapa mantra yang wajib diucapkan oleh ketua adat termasuk nama – nama leluhur mereka yang telah meninggal dan dipercaya masih bersemayam disana, sehingga acara ini bisa dibilang sakral karena ada beberapa ritual yang tidak boleh dilakukan oleh orang luar atau yang bukan dari Keturunan UA KUDA. Pada malam hari sebelum acara ini dimulai para warga berkumpul untuk menyaksikan proses penyusunan sesajen, yang dimana di dalamnya terdapat kepala kerbau yang sudah dewasa. Kemudian barulah pada pagi hari, masyarakat beramai - ramai ketengah laut dengan menggunakan perahu pribadi milik mereka untuk membuang ( rangki ) yang berisi kepala kerbau tersebut ketengah laut. Setelah itu semua masyarakat bersuka cita yaitu bermandikan air laut. Sebagai wujud rasa syukur terhadap hasil laut dan memohon agar tahun - tahun selanjutnya hasil laut bisa lebih melimpah.
Ritual ini banyak menyita perhatian orang yang berasal dari luar daerah tersebut, bagaimana tidak mereka menganggap bahwa ritual ini merupakan ritual yang mengandug paham animisme yakni menyembah laut dan termasuk ritual yang syirik yakni menyekutukan tuhan. Padahal ritual cera labu merupakan ritual yang justru bagi masyarakat disana bahwa kehidupan laut diibaratkan dengan kehidupan basah, sedangkan kehidupan darat adalah kehidupan yang kering. Oleh karena itulah, masyarakat disana mengembangkan konsep keseimbangan antara kehidupan laut yang basah dengan kehidupan darat yang kering. Cera labu juga dihajatkan untuk meminta rejeki kepada Tuhan karena laut merupakan sumber kehidupan bagi warga pesisir soro dan sekitarnya.
Tradisi yang sangat luar biasa, pertahankan tradisi tersebut da era modern ini.
BalasHapusBnar banget gan, sebagai penerus tradisi ini harus dipertahankan. 😊
HapusTerimakasih sudah menambah wawasan kami yang belum memgetahui 😊
BalasHapusSama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)
HapusBagus..
BalasHapusMari cintai budaya sendiri 😊😊
Mari gan. :)
HapusDoa apa yang dibacakan pada ritual ini?
BalasHapusHanya ketua adat yang tau & ilmu itu diturunkan turun - temurun kepada keturunannya.
HapusWow tradisi yang sangat menarik kapan2 saya ingin lihat secara langsung tradisi ini👍
BalasHapusHehe...langsung saja ke desa sy gan, acaranya sekitar bln april sekaligus dalam rangka tambora menyapa dunia. :)
HapusLuar binasa sekali, menambah wawasan sekali
BalasHapusTerimaksih gan... Tunggu postingan sy selanjutnya. :)
HapusSuper sekali, thanks udah berbagi pengetahuan gan
BalasHapusSama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)
HapusBudaya ciri dari daerah di indonesia pertahankan dan kembangkan!
BalasHapusSiap gan. :)
Hapussungguh bagus dan menambah wawasan kita. good
BalasHapusTerimakasih...:)
HapusTerimakasih postingannya saudara, bermanfaat sekali😊 khususnya untuk kami yang berasal dari daerah lain.
BalasHapusSama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)
HapusKeren...😊
BalasHapusTerimakasih...:)
HapusSangat bermanfaat sekali. Dari awalnya blm tahu menjadi tahu.
BalasHapusTerimakasi atas postingannya😊
Sama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)
Hapusterima kasih informasinya. sangat bermanfaat. :)
BalasHapusSama2, tunggu postingan sy selanjutnya yah gan. Pastinya akan lebih bermanfaat lg. :)
HapusCerita yang menarik dan di kemas secara elegan.
BalasHapusHehe...terimakasih gan. Tunggu postingan sy selanjutnya... :)
Hapusartiklenya sangat membantu untuk mengetahui info tentang bima-dompu
BalasHapusditunggu artikel selanjutnya...
Siap :)
HapusMenarik tulisanaya saudara..
BalasHapussedikit pertanyaan...
Anak yg hilang itu perempuan atu laki2?
Menurut narasumber yg sy wawancarai beberapa bulan yg lalu, yg hilang itu seorang laki - laki.
HapusWah unik sekali tradisi masyarakat Soro ini.
BalasHapusTerimakasih :)
Hapusapakah filosofi dari peresean ini??
BalasHapusMaaf gan, salah tempatnya comment...😊
HapusMantap ukhti👍
BalasHapusTerimaksih...
HapusHarusnya akhy gan. 😊
luarbiasaa
BalasHapusTerimakasih, semoga bisa menambah wawasan.
Hapus